Peran Pemuda Dalam Membangun Bangsa



Bismillahirrahmanirrahim...
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan kekuatan kepada semua hambanya untuk berjalan ke jalan yang di ridhainya, solawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW pembawa risalah Allah dan menyampaikanya dengan amanah dan kejujuran.
Manusia hidup untuk berkembang menjadi pewaris bumi yang baik dan benar, bumi dengan segala isinya adalah harta yang diberikan kepada manusia dari masa-kemasa. Pemberian tersebut tidak menuntut timbal balik, tapi hanya menuntut untuk menjaganya dengan sebaik mungkin. Tuntunan untuk menjaga pemberian tersebut telah digariskan oleh sang penguasa alam semesta, manusia cukup memahami dan mengaplikasikanya. Salah satu tuntunan untuk menjaga pemberian tersebut adalah dengan mendidik para pewaris dunia, para pewaris inilah yang nantinya akan membangun perubahan baru yang lebih baik dan sempurna.
Pendidikan adalah pondasi awal untuk membangun pribadi yang ideal dan inovatif, karena pendidika menciptakan paradikma manusia dalam segala aspek kehidupan. Hal tersebut dapat tercapai dengan mewujudkan pembelajaran yang menkontruksi mental dan akhlaq yang mulia pada setiap pemuda, kerena pemuda adalah harapan dan asa, manjadi agen perubahan bangsa dalam semua aspek. Pemuda merupakan generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga, mereka adalah tunas-tunas yang dapat menjadikan perubahan terwujud,tidak hanya sekedar harapan tanpa pelaksanaan.  “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, sedangkan satu pemuda dapat mewujudkan mimpi mereka,” kata Bung Karno ketika itu.
Sejarah telah mencatat urgensitasnya peran pemuda dalam mewujudkan harapan, dapat kita lihat dalam sejarah ekspansi dan penyebaran Islam diberbagai wilayah Persia dan Romawi, pemuda menjadi aktor utama dalam mewujudkan hal tersebut, tamplinya Usamah bin Zaid yang berumur 18 tahun sebagai panglima perang, Kholid bin Walid sang pedang Allah, Tariq bin Ziyad yang kuat, Abdullah bin Mas’ud yang amanah, Abdullah bin Abbas yang berilmu, Zaid bin Tsabit yang cerdas, Ali bin Abi Thalib yang perkasa, Muhammad al-Fatih sang penakluk dan masih banyak lagi yang lainya. Mereka semua menjadi sentral dan pelopor untuk mewujudkan perubahan dan harapan umat. Peran besar pemuda dalam sejarah kemerdekaan Indonesia juga menjadi bukti akan pentingnya sosok pemuda dalam setiap generasi kehidupan. Mereka pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh semangat tumpah darah telah mewujudkan harapan semua masyarakat Indonesia untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan diakui semua bangsa dunia.
Keberhasilan para pemuda tersebut dalam mencapai tujuan dan harapan tidak lepas dari pendidikan mental dan kedalaman akhlaq mulia mereka, sehingga mewujudkan rasa kesadaran untuk menjadi aktor dan pemain inti dalam setiap perubahan yang ingin dicapai. Agen of social cheng bukan predikat untuk anak-anak dan orang tua, tapi untuk para pemuda pemudi bangsa. Sebagai agen perubahan tentu ada peran-peran penting yang mereka mainkan untuk mewujudkan harapan, peran penting tersebut dapat menjamin terwujudnya bangsa yang menjunjung tinggi keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, serta menjadikan kejujuran sebagai identitasnya.
Semangat mewujudkan keadilan dan kejujuran adalah harapan setiap bangsa, Indonesia yang mengalami krisis terhadap kedua semangat tersebut menjadi lahan tandus dan kering, menunggu gerakan para pemuda bangsa untuk menumbuh kembangkan lahan tersebut menjadi subur dan makmur dengan keadilan dan kejujuran. Peran pemuda bangsa dalam mewujudkan bangsa yang menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran tidak hanya terletak pada satu aspek, tapi meliputi semua aspek kehidupan. Baik politik, ekonomi, maupun sosial. Gerakan pemuda dalam setiap elemen masyarakat akan dapat mewujudkan cita-cita bangsa, pemuda harus menjadi uswah dalam setiap lingkungan masyarakatnya, sifat baik dan inovatif yang tampil dari sosok pemuda menjadi kobaran api semangat perubahan bangsa menjadi harapan yang akan terwujud dalam waktu singkat. Bukan hanya sekedar harapan yang selalu digembor-gemborkan selama ini tanpa pelaksanaan.
Keadilan yang mahal dan kejujuran yang semakin langka di Indonesia menjadi PR penting untuk pemuda bangsanya, karena pemuda adalah calon pemimpin dimasa mendatang. Jika pemuda tidak memiliki tekad untuk merubah paradikma tersebut maka keterpurukan bangsa ini akan semakin parah dan memprihatinkan. Melihat fenomena para pemimpin bangsa dewasa ini sangatlah miris sekali, mereka lebih memilih kepentingan pribadi dibandingkan kepentingan masyarakat. Kenyataan tersebut akan tetap kokoh jika peran aktif pemuda mlempem dan apriori terhadap realitas tersebut, maka disini dibutuhkan gerakan perubahan pemuda terhadap hal tersebut, dengan memunculkan tradisi baru, yaitu adil dan jujur serta moralitas yang baik untuk membangun bangsa.
Tradisi adalah kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus, menciptakan tradisi membutuhkan waktu dan pengorbanan. Pemuda sebagai tunas-tunas bangsa yang paling berpeluang dalam menciptakan tradisi, jika tradisi yang diciptakan adalah kebaikan maka perubahan baik akan terwujud, begitu juga sebaliknya jika yang diciptakan adalah keburukan maka kemunduran akan semakin nyata. Keberhasilan para pemuda dulu untuk berjuang memerdekakan bangsa tidak lepas dari kesadaran mereka akan pentingnya sifat adil dan jujur dalam diri setiap pemuda. Hal ini dapat kita lihat dalam teks sumpah pemuda yang sudah sering didengar, mereka bersumpah;
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Semangat perjuangan dan perubahan dalam teks tersebut sangat kental dan kuat, sehingga kemerdekaan yang di harapkan oleh semua elemen bangsa dapat terwujud dengan peran aktif pemuda-pemudi Indonesia. Mereka menjunjung tinggi keadilan untuk bangsanya, dan menjaga kejujuran untuk persatuan dan kesatuan tanah airnya. Nasionalisme tersebut terbentuk bukan dari orang tua atau anak-anak tapi dari pemuda yang ingin merubah nasib bangsanya.
Semoga kita sebagai pemuda dan pemudi bangsa sadar akan peran pentingnya dalam merubah bangsa menuju kedaulatan yang nyata dan menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran untuk jati diri bangsanya. Amin.... 
wallahua'lam...
Malang, 10 Oktober 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekuatan Kata

Belajar Dari Sosok Kh. Abdul Hannan Ma’sum

Kaum Sarungan Sebagai Agent Of Peace (Refleksi 10 November)