Islam Damai



Bismillahirrahmanirrahim...
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, yakni makhluk yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bekerjasama dengan lainnya. Keberadaannya di muka bumi mempunyai tujuan jelas, yaitu menciptakan tatanan damai dan tentram dalam aturan dan kejelasan. Tujuan ini di tangkap secara jelas dalam sebuh cerita perdebatan antara Allah dan malaiktnya dalam proses penciptaan manusia di atas bumi, argumentasi-argumentasi para malaikat dipatahkan oleh Allah dengan tujuan dicipatakanya manusia diatas bumi, yaitu membumikan damai dan tentram. Tujuan ini berangkat dari kegalaun para malaikat karena kehidupan diatas bumi sebelum manusia, yaitu banul jan (bangsa jin), kehidupan yang mereka bangun jauh dari kata damai dan tentram, melainkan pembunuhan dan penindasan menjadi kebiasaannya, sehingga diriwayatkan bahwa kaum mereka merusak bumi dan mengalirkan darah diatasnya. Kenyataan inilah yang menjadi dasar penolakan para malaikat Allah dalam proses penciptaan kehidupan manusia diatas bumi. Akan tetapi kenyataan tersebut dibantah dan dipatahkan dengan jaminan bahwa kehidupan manusia diatas bumi bukan untuk membuat keonaran dan kerusakan, melaikan menciptakan kedamain dan ketentramana. Hal ini dibuktikan dengan fakta dan realita, yaitu keistimewaan berupa prestasi oleh Nabi Adam ‘alaihi al-slam sebagai manusia pertama dihapan malaikat Allah dengan Ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Dan dengan ilmu pengetahuan tersebut manusia akan membumikan damai diatasya. Karena dengan ilmu manusia dapat mengetahui apa yang mashlahah, dan apa yang mafsadah.    
Damai adalah keadaan yang diharapkan siapapun, jauh dari kekahwatiran dan kegelisahan. Ketika hidup damai maka kebahagiaan tercapai. Bukan hanya kalangan umat Islam yang menginginkan keadaan damai tapi juga umat non muslim. Karena damai adalah kebutuhan untuk hidup dan tujuan asal dari terciptanya manusia diatas bumi. Oleh karena itu, setiap kepercayaan (agama) termasuk Islam mengajarkan hidup damai bukan selainya. Jika demikian, siapapun yang membuat keonaran dan kerusakan dengan alasan agama, sangatlah jauh dari kata benar. Karena agama adalah jalan pembimbing bagi siapapun untuk menjadi pribadi yang baik dan santun. Walaupun ada beberapa perbedaan fundamental dalam lingkup kepercayaannya.
Islam sebagai salah satu agama membawa visi dan misi rahmat lil alamiin (Islam sebagai rahmat bagi alam), visi dan misi tersebut diwujudkan dengan ajaran yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, kedatangan Islam menghapus perbedaan kasta diantara manusia, dan menggantinya dengan tali silaturahim yang indah dan damai. Rasulullah SAW mengajarkan mengucapkan salam yang artinya mengajak damai dengan siapapun. Oleh karenanya, KH. Mustafa Bisri ngendikan “jika ada umat Islam yang mengaku cinta kepada Rasulullah tapi menimbulkan kekacaun, mengancam, dan menindas tidaklah patut, dan tidak singkron dengan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW”. Karena ajaran Rasulullah bukan untuk membangun permusuhan akan tetapi membangun perdamain dan ketentraman. Mencintai Rasulullah tidak hanya diwujudkan dengan penampilan simbolik, yaitu memakai surban dan berjenggot panjang, tapi juga mewujudkan ajarannya yang menjunjung tinggi hatkat dan martabat manusia. Hal ini senada dengan tujuan diciptakanya kehidupan manusia diatas bumi sebagaimana telah diuraikan diatas.
Tidak dipungkiri, Islam sebagai agama juga mengalami perbedaan faham, perbedana ini meliputi beberapa aspek dalam ajaran Islam, meliputi aspek teologi (al-iman), ritual peribadatan (al-ibadah), dan sosial (al-mumalah). Semua perbedaan tersebut berangkat dari pemahaman teks Al-Quran sebagai sumber primer ajaran Islam. Pemahaman adalah sudut pandang yang merupakan bentuk kajian manusia untuk memahami teks Al-Quran, perbedaan pemahaman merupakan hal yang wajar terjadi dalam bersudut pandang, karena setiap manusia dibekali akal dan hati untuk menafsirkan teks tersebut. Disamping itu perbedaan juga timbul dari dampak keilmuan yang digeluti, dan dampak sosial lingkungan yang hadapi, serta dampak keadaan yang dijalani. Jika demikian, banyak sekali alasan untuk berbeda pemahaman. Akan tetapi dalam kajian keilmuan agama ada koridor-koridor yang harus diperhatikan, sehingga perbedaan tersebut tidak sampai melewati batasan tertentu (contoh: dalam aspek teologi). Yang perlu difahami bahwa perbedaan pemahaman, walaupun sampai terlihat sangat kentara pun, tidak akan keluar dari wilayah intlelektual, wilayah yang mendaya gunakan potensi otak manusia untuk mengeluarkan pendapat dan pandangan. Jika demikian, penyelesaiannya juga harus dalam ranah intelektual tersebut, artinya setiap perbedaan pemahaman yang menimbukan masalah diselesaikan dalam wilayah intelektual tersebut. oleh karenanya, jika ada perbedaan pemahaman diselesaiakan dengan fisik tentu bukanlah hal yang tepat dan bijak.     
Perbedaan faham yang berkembang dalam Islam bukanlah alasan yang dapat dibenarkan untuk melakukan tindakan anarkis yang bahkan berujung hilangnya nyawa, karena pada dasarnya perbedaan tersebut tidak bertujuan untuk dijadikan alasan tindakan anarkis, tapi sebagai rahmat kepada umat manusia, karena satu ketentuan yang tepat bagi seseorang belum tentu tepat bagi orang lain (Yusuf Qordhawi).  
Tragedi Paris pada Jumat 13 November 2015 dan perang ditimur tengah yang menggunakan alasan agama atau perbedaan faham keagamaan apakah bisa dibenarkan?. Menurut pendapat penulis tidak dibenarkan, karena agama mengajarkan perdamain, dan perbedaan faham keagamaan mengajarkan toleransi. Sebagaimana telah disinggung diatas bahwa tujuan Allah menciptakan manusia di dunia adalah menciptakan perdamain diatasnya, bukan menciptakan kerusakan, maka tindakan anarkis dan brutal dalam bungkus apapun jauh dari tujuan tersebut, dan hal tersebut keluar dari sifat manusia yang sesungguhnya, yaitu makhluk yang dijadikan khalifah (pengganti), maksudnya makhluk yang menggantikan sifat-sifat jelek penghuni bumi sebelumnya, jika sebelumnya suka mengalirkan darah, berbuat kerusakan, dan tindakan-tindakan anarkis lainya, maka penggantinya membumikan damai dan ketentraman diatasnya.
Allah SWT berfirman;
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ [المائدة/48]
48. Dan Kami telah menurunkan kitab (Al Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali[6], lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.
        Shadaqallahul ‘adzim washadaqa rasulihil kariim…
 Malang, Jumat, 20 November 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekuatan Kata

Belajar Dari Sosok Kh. Abdul Hannan Ma’sum

Kaum Sarungan Sebagai Agent Of Peace (Refleksi 10 November)